Dua minggu lalu, tepatnya hari Kamis, 31 Juli 2008 inang tua Ny. Pdt. J.M. Aritonang baru Hutapea(saya memanggilnya Mama)menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sekitar 30 menit masa kritis dialaminya, yang membuat semua anggota keluarga yang berada di sekitar pembaringannya di ICU UKI mengalami ketegangan. Air mata, isak tangis, doa dan senandung lagu rohani bergantian dan malah serempak terdengar.Semua merasa sedih. Merasa kehilangan.
Mama tidak lama dirawat di rumah sakit. Mama masuk UGD UKI pada sekitar pukul 06 pagi setelah mengeluarkan muntahan yang berwarna kental merah jambu seperti ketan item.Dokter dengan cepat menangani Mama setelah mendapatkan keterangan dari saya ditambah dengan pemeriksaan awal yang dianggap perlu. Mama masih sempat merespons pertanyaan dokter. Mama membuka mulut, mencoba menjulurkan lidah serta mengangguk ketika menjawab pertanyaan dokter. Sayangnya, kondisi kesadaran Mama cepat merosot walaupun sudah diberi bantuan oksigen dan pernapasan. CT Scan menunjukkan gambaran otak Mama yang mengalami pendarahan. Volume darah di otak tidak main-main, 50 cc yang menurut dokter merupakan kondisi sangat kritis. Tidak ada alternatif penanganan selain operasi.Kalau tidak, kita tinggal tunggu waktu.
Waktu Mama ditangani di ruang UGD satu persatu kerabat dekat datang melihat dan memberi dukungan. Mula-mula Leo, adikku; lalu Uma (ibuku), kemudian tante Bed dan Tulang Karl (keduanya adik Mama).Tapi yang paling melegakan adalah ketika Guru Jemaat HKI Cawang Cililitan St. M. Harianja tiba. Tak lama berselang menyusul St. Butarbutar dan St. T. Silitonga (Seksi Diakonia HKI CC) bersama dengan Ny. Pdt. Togos Sinaga br Nainggolan, St. br. Simanjuntak dan Ny. Parhusip, ketiganya adalah teman-teman Mama di Persatuan Wanita (PW) HKI CC.
Kira-kira pukul 14.00, Mama dipindahkan ke ruang ICU (Intensive Care Unit). Tiga hari di sana, warga jemaat dan majelis parhalado berdatangan memberikan dukungan moril.Termasuk memenuhi permintaan untuk mengadakan perjamuan kudus untuk Mama. Sayang sekali, permintaan ini akhirnya dicabut sendiri oleh pihak keluarga karena satu dan lain hal.
Bentuk pertolongan dari Gereja masih berlanjut pada saat Mama mengalami krisis. Saya langsung menelepon St. T. Pakpahan dan memberitakan tentang kondisi Mama yang akhirnya meninggal pada hari Kamis, 31 Juli 2008 pukul 01.10 WIB.
Dukungan makin mengalir setelah jenazah Mama tiba di rumah. Mereka segera menyalami kami sekeluarga. Permintaan keluarga agar Mama dibawa ke gereja disambut dengan sangat positif. Bahkan mereka tadinya justru yang akan datang meminta. Acara di gereja menggambarkan betapa Gereja memberikan keleluasaan kepada keluarga yang berduka untuk mendapatkan penghiburan yang total dari setiap majelis parhalado, warga jemaat dan semua hadirin. Betul-betul merupakan tindakan yang sangat terasa manfaatnya secara batin yang paling dalam.
Demikian juga dengan pemakaian fasilitas gereja berupa kursi dan whiteboard tersedia. Majelis mengijinkan untuk meminjam alat atau apapun yang diperlukan selama tersedia di gereja.Sebenarnya bukan berapa macam benda atau benda apa saja, tetapi bagaimana pihak gereja memberikan jawaban yang sungguh melegakan. Mereka mengerti kondisi orang yang berduka. Sangat memerlukan sentuhan kasih.
Yang tak kalah memberikan penguatan adalah krans bunga tanda turut berduka cita. Secara pribadi, saya sangat terkesan dengan karangan bunga yang sederhana yang diberikan tim redaksi Buletin en Theos.
Acara penghiburan dari gereja HKI CC secara resmi berjumlah 3 rombongan. Tentunya, yang paling berbekas dalam hati adalah kedatangan lembaga Bukit Sion pada hari Minggu, 10 Agustus 2008 pada pukul 10.00 pagi. Suasana sangat cair. semua yang mandok hata berkata lugas, tidak basa-basi. Tapi suasana kocak yang diselingi humor sangat memberikan perbedaan bagi kami sekeluarga.
Penghiburan dari gereja kiranya bukanlah semacam ritual atau kebiasaan semata. Tapi merupakan tugas pastoral yang meringankan beban pikiran dan perasaan. Gereja memberikan pendampingan pada saat dibutuhkan akan memperkuat pengenalan keluarga warga jemaat yang sedang dilanda duka mendalam.
Senin, Agustus 11, 2008
Sabtu, Juli 26, 2008
KEPEMIMPINAN PNB, DI MANA?
Mana lebih mudah mencari pemimpin daripada mencari anggota? Siapakah yang menentukan seseorang menjadi pemimpin atau anggota? Kedua pertanyaan ini sangat penting bagi PNB (Persatuan Naposo Bulung = Pemuda Gereja) sekarang ini.
Sebelum menjadi seorang pengurus (terutama Ketua, Sie Kerohanian dan Sie Koor), seseorang pertama-tama talah menjadi anggota. Masa keanggotaan sebelum menjadi pengurus tidaklah sama untuk setiap orang tergantunbg tingkat kedewasaan orang tersebut. Satu hal yang pasti, tidaklah bijak memilih seorang ketua kalau belum pernah merasakan bagaimana indahnya menjadi anggota.
Masa seseorang menjadi anggota PNB memberi kesempatan baginya untuk mengenal siapakah dirinya di dalam PNB, dan siapakah PNB untuk dirinya dan siapakah PNB untuk gereja, serta siapakah PNB di hadapan Tuhan. Semua itu menyangkut apa yang disebut identitas. Identitas menentukan arah, identitas menetukan kapasitas dan identitas menentukan cara/strategi pelayanan.
Kita bersyukur bahwa PNB HKI (Huria Kristen Indonesia) telah turut memberikan andil dalam perjalanan hidup HKI. Di tiap jemaat PNB selalu berpartisipasi menurut kemampuannya. Demikian juga di tingkat lebih tinggi yaitu resort, daerah dan pusat. Selama ini, semboyan yang dibangga-banggakan sebagian orang adalah PNB sebagai bunga-bunga ni huria. Padahal, bunga-bunga itu adalah penghias, dekorasi. Dipasang kalau ada acara penting. Kalau cerah dan segar dipajang, tetapi kalau layu dan kusam dibuang. Hidup PNB tergantung dari musim. Musim hujan, tumbuh dan berkembang, kadang malah jadi liar. Musim kemarau layu, mati suri dan akhirnya mati betulan.
Identitas PNB pertama-tama seharusnya adalah pelayan, hamba Kristus. Ia mau mengerjakan hal yang paling remeh, paling kecil dan paling hina. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak harus dikerjakan tuannya-bukan karena tidak bias atau tidak mau tetapi karena ada pekerjaan yang lebih penting baginya. Misalnya, bukan tidak bias majelis/pendeta untuk menyapu gereja tetapi mereka masih ada tugas lain seperti mempersiapkan khotbah dan berdoa. Contoh lain, bukan tida bias pendeta menjadi ketua PNB atau pelatih koor tetapi mereka perlu sebagai gembala untuk keseluruhan jemaat.
Gereja HKI terkadang menerapkan standar ganda pada PNB. Di satu sisi PNB diharapkan menjadi tulang punggung gereja, maka PNB harus melatih diri agar mandiri. Di sisi lain, PNB dianggap masih muda (karena belaum menikah?) sehingga masih perlu diarahkan dan diatur.
Tarik-menarik di titik dilematis itulah yang sering terjadi dalam perjalanan hidup PNB, termasuk dalam penentuan personil pengurus PNB di tiap tingkatan. Campur tangan itu tidak selalu tampak secara kasat mata. Juga tidak selalu para pejabat gereja yang turun langsung, tetapi melalui orang-orangh tertentu. Suasana itu memang tidak selalu terlihat, atau teraba tetapi anehnya hamper selalu bisa dirasakan.
Berbahagialah orang yang terpilih dalam suasana demikian, karena dia tidak perlu lagi minta restu atau pengakuan. Dia lebih mudah mendapat bantuan. Lebih mudah berkonsultasi, minta petunjuk dan lebih mudah minta fasilitas, dll.
Hanya saja, kondisi seperti itu sangat berbahaya dalam kepemimpinan khususn ya dalam tugas pengambilan keputusan.Kita tidak boleh tidak bertanya siapa yang mengambil keputusan, bagaimana keputusan diambil dan untuk kepentingan siapa keputusan itu?
Badan yang disebut sebagai paniroi PNB bisa membuat pengurus PNB tidak terlatih untuk mandiri. Pengurus PNB dengan mudah bisa berlindung di bawah nama besar paniroi, khususnya apabila tidak berhasil melaksanakan tugas. Demikian juga pengurus dan bahkan anggota PNB cenderung mengadu ke paniroi bila ada masalah di antara mereka. Mereka tidak akan terbiasa menyelesaikan konflik atau permasalahan sesama mereka, tetapi minta campur tangan orang yang lebih tinggi.
Dalam keadaan seperti ini, permasalahan mungkin dianggap selesai. Tidak ada lagi sungut-sungut, kritik atau protes. Tetapi kita layak meragukan. Selesainya suatu persalahan bisa jadi karena enggan atau takut pada majelis, paniroi, pendeta, tetap kerap kali masalah sesungguhnya tidak tersentuh apalagi tuntas.
Pengurus PNB ada untuk melayani anggota PNB. Mereka tidak menjadi bos di sana. Tetapi menjadi pelayan tertinggi. Artinya mereka harus mau mengerjakan pekerjaan yang paling sulit. Tidak boleh lari, atau mengalihkan pada orang lain. Pengurus menjadi pelayan yang formal, yang legitimate-suaranya didengar. Untuk itu mereka sepatutnya menjalankan tugas sesuai dengan panggilannya. (Lamser Aritonang)
Sebelum menjadi seorang pengurus (terutama Ketua, Sie Kerohanian dan Sie Koor), seseorang pertama-tama talah menjadi anggota. Masa keanggotaan sebelum menjadi pengurus tidaklah sama untuk setiap orang tergantunbg tingkat kedewasaan orang tersebut. Satu hal yang pasti, tidaklah bijak memilih seorang ketua kalau belum pernah merasakan bagaimana indahnya menjadi anggota.
Masa seseorang menjadi anggota PNB memberi kesempatan baginya untuk mengenal siapakah dirinya di dalam PNB, dan siapakah PNB untuk dirinya dan siapakah PNB untuk gereja, serta siapakah PNB di hadapan Tuhan. Semua itu menyangkut apa yang disebut identitas. Identitas menentukan arah, identitas menetukan kapasitas dan identitas menentukan cara/strategi pelayanan.
Kita bersyukur bahwa PNB HKI (Huria Kristen Indonesia) telah turut memberikan andil dalam perjalanan hidup HKI. Di tiap jemaat PNB selalu berpartisipasi menurut kemampuannya. Demikian juga di tingkat lebih tinggi yaitu resort, daerah dan pusat. Selama ini, semboyan yang dibangga-banggakan sebagian orang adalah PNB sebagai bunga-bunga ni huria. Padahal, bunga-bunga itu adalah penghias, dekorasi. Dipasang kalau ada acara penting. Kalau cerah dan segar dipajang, tetapi kalau layu dan kusam dibuang. Hidup PNB tergantung dari musim. Musim hujan, tumbuh dan berkembang, kadang malah jadi liar. Musim kemarau layu, mati suri dan akhirnya mati betulan.
Identitas PNB pertama-tama seharusnya adalah pelayan, hamba Kristus. Ia mau mengerjakan hal yang paling remeh, paling kecil dan paling hina. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak harus dikerjakan tuannya-bukan karena tidak bias atau tidak mau tetapi karena ada pekerjaan yang lebih penting baginya. Misalnya, bukan tidak bias majelis/pendeta untuk menyapu gereja tetapi mereka masih ada tugas lain seperti mempersiapkan khotbah dan berdoa. Contoh lain, bukan tida bias pendeta menjadi ketua PNB atau pelatih koor tetapi mereka perlu sebagai gembala untuk keseluruhan jemaat.
Gereja HKI terkadang menerapkan standar ganda pada PNB. Di satu sisi PNB diharapkan menjadi tulang punggung gereja, maka PNB harus melatih diri agar mandiri. Di sisi lain, PNB dianggap masih muda (karena belaum menikah?) sehingga masih perlu diarahkan dan diatur.
Tarik-menarik di titik dilematis itulah yang sering terjadi dalam perjalanan hidup PNB, termasuk dalam penentuan personil pengurus PNB di tiap tingkatan. Campur tangan itu tidak selalu tampak secara kasat mata. Juga tidak selalu para pejabat gereja yang turun langsung, tetapi melalui orang-orangh tertentu. Suasana itu memang tidak selalu terlihat, atau teraba tetapi anehnya hamper selalu bisa dirasakan.
Berbahagialah orang yang terpilih dalam suasana demikian, karena dia tidak perlu lagi minta restu atau pengakuan. Dia lebih mudah mendapat bantuan. Lebih mudah berkonsultasi, minta petunjuk dan lebih mudah minta fasilitas, dll.
Hanya saja, kondisi seperti itu sangat berbahaya dalam kepemimpinan khususn ya dalam tugas pengambilan keputusan.Kita tidak boleh tidak bertanya siapa yang mengambil keputusan, bagaimana keputusan diambil dan untuk kepentingan siapa keputusan itu?
Badan yang disebut sebagai paniroi PNB bisa membuat pengurus PNB tidak terlatih untuk mandiri. Pengurus PNB dengan mudah bisa berlindung di bawah nama besar paniroi, khususnya apabila tidak berhasil melaksanakan tugas. Demikian juga pengurus dan bahkan anggota PNB cenderung mengadu ke paniroi bila ada masalah di antara mereka. Mereka tidak akan terbiasa menyelesaikan konflik atau permasalahan sesama mereka, tetapi minta campur tangan orang yang lebih tinggi.
Dalam keadaan seperti ini, permasalahan mungkin dianggap selesai. Tidak ada lagi sungut-sungut, kritik atau protes. Tetapi kita layak meragukan. Selesainya suatu persalahan bisa jadi karena enggan atau takut pada majelis, paniroi, pendeta, tetap kerap kali masalah sesungguhnya tidak tersentuh apalagi tuntas.
Pengurus PNB ada untuk melayani anggota PNB. Mereka tidak menjadi bos di sana. Tetapi menjadi pelayan tertinggi. Artinya mereka harus mau mengerjakan pekerjaan yang paling sulit. Tidak boleh lari, atau mengalihkan pada orang lain. Pengurus menjadi pelayan yang formal, yang legitimate-suaranya didengar. Untuk itu mereka sepatutnya menjalankan tugas sesuai dengan panggilannya. (Lamser Aritonang)
Kamis, Juli 17, 2008
HOBBY KE GEREJA?
Bagi sebagian orang gereja adalah tempat yang amat sakral sehingga tidak sembarang orang dan waktu bisa ke sana. Bagi sebagian lain, gereja adalah tempat yang biasa saja, tidak memiliki aturan tertentu untuk memasukinya.Tidak beda jauh dengan rumah kita, atau rumah tetangga. Paling kita cuma minta izin masuk.
Kenapa begitu? Karena orang ke gereja punya macam-macam motivasi. Orang sudah sangat paham kalau orang Kristen pergi kebaktian ke gereja. Kalau dia termasuk orang yang rajin, berarti dia pergi setiap hari Minggu dan setiap ada perayaan
Gerejawi seperti Paskah, Natal, dsb. Dia pergi ke gereja untuk beribadah. Dia melaporkan setiap hal yang dialaminya kepada Allah Tuhan. Dengan ucapan syukur dia sampaikan doa dan pujian. Selanjutnya, dia memohon doa keselamatan, doa kesehatan dan penyertaan supaya diberkati dalam kerja, usaha dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Sebagian lagi pergi ke gereja sebagai satu kegiatan yang amat rutin. Hal ini sangat potensial terjadi justru pada aktivis gereja. Mereka ini ke gereja tidak terbatas pada hari Minggu saja. Ada saja kegiatan lain yang mengharuskannya untuk hadir di gereja. Contohnya, sermon, kebaktian sektor, latihan koor lembaga atau rapat-rapat panitia, dsb. Ada lagi yang datang ke gereja pada hari-hari lain karena membuat gereja sebagai titik pertemuan. Gereja menjadai semacam kantor tidak resmi, tempat untuk singgah, tempat untuk melepaskan diri dari kegiatan rutin.Akan tetapi, orang-orang jenis ini tidak atau kurang melalukan aktivitas ibadah atau doa secara khusus. Hanya sebutan saja dia pergi ke gereja. Gereja sebagai lokasi, gereja sebagai gedung.
Gereja yang berfungsi sebagai tempat pertemuan ini akan membuat gereja kehilangan sedikit esensinya. Mereka hobby pergi ke gereja tetapi kalau diadakan semacam survey menyangkut perilaku dan spiritualitas sangat diragukan apakah mereka ini masuk kategori yang baik.
Ini harus menjadi semacam pertanyaan kecil bagi aktivis gereja supaya lebih waspada.
Kenapa begitu? Karena orang ke gereja punya macam-macam motivasi. Orang sudah sangat paham kalau orang Kristen pergi kebaktian ke gereja. Kalau dia termasuk orang yang rajin, berarti dia pergi setiap hari Minggu dan setiap ada perayaan
Gerejawi seperti Paskah, Natal, dsb. Dia pergi ke gereja untuk beribadah. Dia melaporkan setiap hal yang dialaminya kepada Allah Tuhan. Dengan ucapan syukur dia sampaikan doa dan pujian. Selanjutnya, dia memohon doa keselamatan, doa kesehatan dan penyertaan supaya diberkati dalam kerja, usaha dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Sebagian lagi pergi ke gereja sebagai satu kegiatan yang amat rutin. Hal ini sangat potensial terjadi justru pada aktivis gereja. Mereka ini ke gereja tidak terbatas pada hari Minggu saja. Ada saja kegiatan lain yang mengharuskannya untuk hadir di gereja. Contohnya, sermon, kebaktian sektor, latihan koor lembaga atau rapat-rapat panitia, dsb. Ada lagi yang datang ke gereja pada hari-hari lain karena membuat gereja sebagai titik pertemuan. Gereja menjadai semacam kantor tidak resmi, tempat untuk singgah, tempat untuk melepaskan diri dari kegiatan rutin.Akan tetapi, orang-orang jenis ini tidak atau kurang melalukan aktivitas ibadah atau doa secara khusus. Hanya sebutan saja dia pergi ke gereja. Gereja sebagai lokasi, gereja sebagai gedung.
Gereja yang berfungsi sebagai tempat pertemuan ini akan membuat gereja kehilangan sedikit esensinya. Mereka hobby pergi ke gereja tetapi kalau diadakan semacam survey menyangkut perilaku dan spiritualitas sangat diragukan apakah mereka ini masuk kategori yang baik.
Ini harus menjadi semacam pertanyaan kecil bagi aktivis gereja supaya lebih waspada.
Minggu, Juli 06, 2008
ENAKNYA DAPAT TRANSFER
Bila kita mendengar kata transfer, pikiran akan segera mengarah pada bank. Sementara bank identik dengan uang. Sehingga kata transfer otomatis berhubungan dengan uang. Apakah itu salah?
Sama sekali tidak salah! Hanya saja kasihan sekali kalau kita hanya mengaitkan transfer dengan uang. Masih banyak hal yang berhubungan dengan kata ajaib tersebut. Paling tidak ada 3 komponen lain misalnya dunia pendidikan, kerohanian/gereja dan manusia sendiri.
Dalam dunia pendidikan apa yang ditransfer? Uang? Ya, uang memang salah satu hal yang ditransfer bila kita mengingat makin banyak sekolah atau perguruan tinggi yang melayani pembayaran SPP melalui bank. Bayangkan kalau tidak ada teknologi on line di bank. Berapa panjang antrian, berapa lama menunggu serta betapa capeknya proses membayar uang sekolah. Itulah gunanya kemajuan teknologi, memudahkan dan mempercepat proses kerja. Hasilnya juga diharapkan lebih berkualitas.
Tetapi bukan uang yang paling penting ditransfer dalam dunia pendidikan! Objek yang ditransfer itu adalah ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter anak. Itulah tugas yang disandang oleh semua pelaku pendidikan terutama oleh guru. Guru berperan membuat anak yang belum tahu menjadi tahu, memotivasi anak supaya rajin belajar dan membuat PR, mengubah anak yang bodoh menjadi pintar, mengajak anak supaya saling menghargai dengan teman-temannya dan terutama dengan orang tua.
Bagaimana proses itu berjalan? Yang pasti tidak semudah mentransfer uang yang cukup dengan menulis sejumlah uang, dan memberikan nomor rekening. Di situ diperlukan antara lain penguasaan materi pelajaran, keterampilan menjelaskan dari guru, pemahaman guru terhadap kondisi anak didiknya, konsistensi sikap dan perilaku guru , serta ketersediaan fasilitas belajar mengajar.
Di dunia kerohanian/gereja masalah transfer ini agaknya kurang disadari sehingga kurang diperhatikan. Kalau di bank yang ditranfer uang, di dunia yang ditransfer adalah ilmu pengetahuan dan karakter, maka dalam dunia kerohanian yang ditransfer tentu saja adalah iman, pengharapan dan kasih. Kita prihatin bila kebanyakan gereja lebih senang mentransfer perintah, kewajiban-kewajiban (iuran, ucapan syukur, PTB=Persembahan Tetap Bulanan), dan peraturan-peraturan.
Dunia kerohanian/gereja melakukan transfer melalui pengajaran, pelatihan, keteladanan dan ibadah seremonial. Masing-masing kita dapat melihat apakah kita mendapat pengajaran, pelatihan dan teladan yang cukup di gereja. Seperti anak sekolah yang mempunyai kurikulum, perusahaan mempunyai program rekrutmen dan pelatihan, Gereja perlu merumuskan pengajaran dan pelatihan yang sistematis. Misalnya, pengetahuan, keterampilan dan karakter apa yang minimal dimiliki oleh seorang lulusan STT sebelum menjalani masa vikariat. Demikian juga untuk tingkat sintua, pengurus lembaga kategorial, guru sekolah minggu dan naik sidi. Rasanya kita tidak dapat mengandalkan proses pengajaran hanya pada melalui khotbah sekali seminggu melalui langgatan!
Namanya juga transfer, orang yang mentransfer adalah orang yang memiliki apa yang mau ditransfer. Patut diingat bahwa yang melakukan transfer tidak harus yang paling: paling pintar, paling kaya, paling tua, paling banyak anak, paling tinggi pendidikan, paling senior, dsb. Karena biasanya yang dianggap berhak mentransfer hanyalah kalangan pendeta, guru jemaat, sintua dan majelis. Kasihan sekali mereka dituntut untuk memberikan yang belum tentu mereka miliki! Kondisi ini akan menempatkan semua pihak dalam posisi susah. Bukan saja karena susah mencari orang yang serba paling tersebut, tetapi juga tidak mendukung pertumbuhan jemaat. Karena bisa saja ada seseorang yang ahli di bidang keuangan di kantornya, tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengurus keuangan jemaat hanya karena dia belum sintua, misalnya.
Bentuk transfer yang lain adalah transfer dalam bentuk manusia. Contohnya, kalangan pendeta menghadapi kemungkinan transfer setiap periode. Contoh lain, anak sekolah yang telah lulus merantau ke Jakarta lalu menjadi anggota di salah satu gereja. Inilah transfer yang paling menguntungkan sepanjang orang tersebut benar-benar berkualitas. Dari segi kerohanian dia punya iman, pengharapan dan kasih. Dia berkarakter bagus dan mau melayani. Apalagi bila dia juga mempunyai pekerjaan yang memungkinkan dia bisa memberikan sumbangan keuangan untuk kebutuhan pelayanan.
Sampai detik ini, belum pernah ditemukan ada orang mendapat transfer uang tetapi mengeluh. Kalaupun mengeluh, mungkin karena transfernya kurang banyak saja jumlah nol di belakang. Demikian juga kiranya kalau transfer ilmu pengetahuan, iman, pengharapan, kasih, karakter dan transfer orang berkualitas terjadi di satu gereja, atau antar gereja HKI. Jangan sampai salah alamat, kita mentransfer ke gereja lain padahal gereja HKI masih sangat membutuhkan.
Kalau transfer berjalan dengan baik dan teratur tentulah mendatangkan dampak positif. Melalu transfer akan terbangun kedewasaan rohani, kepedulian sosial, kecerdasan dan pemerataan kehidupan. Melalui transfer akan tercipta hubungan saling menolong antara pihak-pihak yang saling terlibat. Transfer menghilangkan kecemburuan, menghilangkan kemiskinan serta menghilangkan egoisme dan kesombongan. (Lamser Aritonang, HKI Cawang Cililitan, Editor bulletin En Theos)
Dimuat di bina warga hki, Juni - Juli 2008
Sama sekali tidak salah! Hanya saja kasihan sekali kalau kita hanya mengaitkan transfer dengan uang. Masih banyak hal yang berhubungan dengan kata ajaib tersebut. Paling tidak ada 3 komponen lain misalnya dunia pendidikan, kerohanian/gereja dan manusia sendiri.
Dalam dunia pendidikan apa yang ditransfer? Uang? Ya, uang memang salah satu hal yang ditransfer bila kita mengingat makin banyak sekolah atau perguruan tinggi yang melayani pembayaran SPP melalui bank. Bayangkan kalau tidak ada teknologi on line di bank. Berapa panjang antrian, berapa lama menunggu serta betapa capeknya proses membayar uang sekolah. Itulah gunanya kemajuan teknologi, memudahkan dan mempercepat proses kerja. Hasilnya juga diharapkan lebih berkualitas.
Tetapi bukan uang yang paling penting ditransfer dalam dunia pendidikan! Objek yang ditransfer itu adalah ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter anak. Itulah tugas yang disandang oleh semua pelaku pendidikan terutama oleh guru. Guru berperan membuat anak yang belum tahu menjadi tahu, memotivasi anak supaya rajin belajar dan membuat PR, mengubah anak yang bodoh menjadi pintar, mengajak anak supaya saling menghargai dengan teman-temannya dan terutama dengan orang tua.
Bagaimana proses itu berjalan? Yang pasti tidak semudah mentransfer uang yang cukup dengan menulis sejumlah uang, dan memberikan nomor rekening. Di situ diperlukan antara lain penguasaan materi pelajaran, keterampilan menjelaskan dari guru, pemahaman guru terhadap kondisi anak didiknya, konsistensi sikap dan perilaku guru , serta ketersediaan fasilitas belajar mengajar.
Di dunia kerohanian/gereja masalah transfer ini agaknya kurang disadari sehingga kurang diperhatikan. Kalau di bank yang ditranfer uang, di dunia yang ditransfer adalah ilmu pengetahuan dan karakter, maka dalam dunia kerohanian yang ditransfer tentu saja adalah iman, pengharapan dan kasih. Kita prihatin bila kebanyakan gereja lebih senang mentransfer perintah, kewajiban-kewajiban (iuran, ucapan syukur, PTB=Persembahan Tetap Bulanan), dan peraturan-peraturan.
Dunia kerohanian/gereja melakukan transfer melalui pengajaran, pelatihan, keteladanan dan ibadah seremonial. Masing-masing kita dapat melihat apakah kita mendapat pengajaran, pelatihan dan teladan yang cukup di gereja. Seperti anak sekolah yang mempunyai kurikulum, perusahaan mempunyai program rekrutmen dan pelatihan, Gereja perlu merumuskan pengajaran dan pelatihan yang sistematis. Misalnya, pengetahuan, keterampilan dan karakter apa yang minimal dimiliki oleh seorang lulusan STT sebelum menjalani masa vikariat. Demikian juga untuk tingkat sintua, pengurus lembaga kategorial, guru sekolah minggu dan naik sidi. Rasanya kita tidak dapat mengandalkan proses pengajaran hanya pada melalui khotbah sekali seminggu melalui langgatan!
Namanya juga transfer, orang yang mentransfer adalah orang yang memiliki apa yang mau ditransfer. Patut diingat bahwa yang melakukan transfer tidak harus yang paling: paling pintar, paling kaya, paling tua, paling banyak anak, paling tinggi pendidikan, paling senior, dsb. Karena biasanya yang dianggap berhak mentransfer hanyalah kalangan pendeta, guru jemaat, sintua dan majelis. Kasihan sekali mereka dituntut untuk memberikan yang belum tentu mereka miliki! Kondisi ini akan menempatkan semua pihak dalam posisi susah. Bukan saja karena susah mencari orang yang serba paling tersebut, tetapi juga tidak mendukung pertumbuhan jemaat. Karena bisa saja ada seseorang yang ahli di bidang keuangan di kantornya, tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengurus keuangan jemaat hanya karena dia belum sintua, misalnya.
Bentuk transfer yang lain adalah transfer dalam bentuk manusia. Contohnya, kalangan pendeta menghadapi kemungkinan transfer setiap periode. Contoh lain, anak sekolah yang telah lulus merantau ke Jakarta lalu menjadi anggota di salah satu gereja. Inilah transfer yang paling menguntungkan sepanjang orang tersebut benar-benar berkualitas. Dari segi kerohanian dia punya iman, pengharapan dan kasih. Dia berkarakter bagus dan mau melayani. Apalagi bila dia juga mempunyai pekerjaan yang memungkinkan dia bisa memberikan sumbangan keuangan untuk kebutuhan pelayanan.
Sampai detik ini, belum pernah ditemukan ada orang mendapat transfer uang tetapi mengeluh. Kalaupun mengeluh, mungkin karena transfernya kurang banyak saja jumlah nol di belakang. Demikian juga kiranya kalau transfer ilmu pengetahuan, iman, pengharapan, kasih, karakter dan transfer orang berkualitas terjadi di satu gereja, atau antar gereja HKI. Jangan sampai salah alamat, kita mentransfer ke gereja lain padahal gereja HKI masih sangat membutuhkan.
Kalau transfer berjalan dengan baik dan teratur tentulah mendatangkan dampak positif. Melalu transfer akan terbangun kedewasaan rohani, kepedulian sosial, kecerdasan dan pemerataan kehidupan. Melalui transfer akan tercipta hubungan saling menolong antara pihak-pihak yang saling terlibat. Transfer menghilangkan kecemburuan, menghilangkan kemiskinan serta menghilangkan egoisme dan kesombongan. (Lamser Aritonang, HKI Cawang Cililitan, Editor bulletin En Theos)
Dimuat di bina warga hki, Juni - Juli 2008
Selasa, Mei 13, 2008
Paskah, Bangkitlah
Hari Raya Paskah tahun ini memberikan makna baru bagiku. Aku merasa dalam beberapa tahun ini belum ada perubahan yang berarti yang telah aku perubahan. Belum ada suatu prestasi signifikan yang telah kuraih baik dalam dunia kerja, karir maupun dalam hidup pribadi. Karena itu, sudah saatnya aku melangkah lebih pasti berdasarkan tujuan yang jelas. Apalagi bila melihat betapa bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun tanpa terasa. Sementara orang lain telah mencapai bulan, menemukan planet baru bahkan menciptakan manusia baru.
Tidak, aku harus bangkit, berdiri. Sekarang tidak cukup hanya berjalan. Aku harus berlari,berlari cepat mengejar ketinggalan.sungguh sayang bila banyak anugrah, talenta, fasilitas dan kesempatan yang membentang tidak kumanfaatkan. Aku harus memasang kuda-kuda yang kokoh sehingga dapat berlari dengan konstran tanpa takut terjatuh karena kurang keseimbangan atau kurang perbekalan.
Diposting oleh lamtonang
Label: refleksi
Tidak, aku harus bangkit, berdiri. Sekarang tidak cukup hanya berjalan. Aku harus berlari,berlari cepat mengejar ketinggalan.sungguh sayang bila banyak anugrah, talenta, fasilitas dan kesempatan yang membentang tidak kumanfaatkan. Aku harus memasang kuda-kuda yang kokoh sehingga dapat berlari dengan konstran tanpa takut terjatuh karena kurang keseimbangan atau kurang perbekalan.
Diposting oleh lamtonang
Label: refleksi
Langganan:
Postingan (Atom)
